Kinerja Keuangan Cetak Rekor, GoTo Revisi Naik Pedoman Kinerja Tahun 2025
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat capaian luar biasa di kuartal III 2025, ketika perusahaan teknologi ini berhasil mencetak laba sebelum pajak yang disesuaikan sebesar Rp 62 miliar untuk pertama kalinya dalam sejarahnya dan mengerek pedoman kinerja EBITDA yang disesuaikan (adjusted EBITDA) tahun 2025 menjadi antara Rp 1,8 triliun hingga Rp 1,9 triliun (sebelumnya Rp 1,4 triliun–Rp 1,6 triliun). Laporan keuangan terbaru menunjukkan GoTo cetak laba di Q3-2025 dengan peningkatan pendapatan bersih lebih dari 20% secara tahunan (YoY).
Kinerja Keuangan Cetak Rekor, GoTo Revisi Naik Pedoman Kinerja Tahun 2025 dengan perincian yang menunjukkan bahwa pendapatan bersih GOTO untuk kuartal III mencapai Rp 4,74 triliun, naik 21 % secara year-on-year dari Rp 3,93 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.Pada periode sembilan bulan hingga September 2025, pendapatan bersih tercatat Rp 13,30 triliun, tumbuh 14 % dibandingkan Rp 11,66 triliun untuk periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian EBITDA yang disesuaikan juga spektakuler: naik hingga 239 % YoY menjadi Rp 516 miliar pada Q3 2025. Sementara itu, GTV (Gross Transaction Value) inti GOTO turut tumbuh signifikan menjadi Rp 102,8 triliun, naik 43 % YoY.
Mengapa capaian ini bisa terjadi? Beberapa faktor yang disebut manajemen: peningkatan skala di segmen On-Demand Services (ODS) dan Financial Technology (FinTech), efisiensi biaya operasional yang makin disiplin, serta migrasi teknologi seperti penggunaan cloud dan AI yang mulai memberi nilai tambah efisiensi.
Dengan momentum ini, GOTO menegaskan bahwa strategi menuju bisnis yang tidak hanya tumbuh tetapi juga menguntungkan semakin nyata. Direktur Utama GOTO, Patrick Walujo, menyebut bahwa revisi pedoman kinerja menjadi sinyal bahwa perusahaan makin percaya diri menghadapi sisa tahun 2025, dan menegaskan fokus pada solusi konsumen, kemitraan yang lebih efisien, dan penghasilan mitra yang meningkat.
Tentu saja, pencapaian ini bukan berarti seluruh tantangan telah usai. Meskipun laba sebelum pajak berhasil dicetak, GOTO masih mencatatkan rugi bersih untuk periode ini yang artinya profitabilitas penuh masih menjadi tugas berikutnya. Contohnya, laporan menunjukkan bahwa total rugi periode berjalan pada sembilan bulan mencapai sekitar Rp 996,98 miliar, atau turun sekitar 78 % dari Rp 4,54 triliun di tahun sebelumnya.
Terlebih lagi, revisi target yang naik tersebut membawa ekspektasi yang lebih tinggi dari pasar dan investor. Jika GOTO gagal mempertahankan momentum atau menghadapi risiko eksternal seperti persaingan, regulasi fintech, atau perubahan makro ekonomi, maka target tersebut bisa menjadi beban. Namun hingga kini, indikator-indikator operasional dan keuangan menunjukkan bahwa perusahaan berada di jalur yang semakin kuat.
Secara keseluruhan, laporan kuartal III 2025 dan revisi pedoman kinerja oleh GOTO menunjukkan titik balik penting dalam sejarah perusahaan: dari startup platform besar yang masih mencari profitabilitas, menuju entitas yang mulai menghasilkan keuntungan dan menetapkan target yang realistis namun menantang. Apabila perusahaan dapat mengeksekusi strategi yang telah berjalan baik segmen ODS, FinTech, maupun efisiensi operasional maka tahun 2025 bisa menjadi tahun transformasi fundamental bagi GOTO.
Namun publik, investor, dan pasar akan terus memantau: apakah pertumbuhan ini akan berkelanjutan, apakah profitabilitas bersih akan tercapai, dan apakah revisi target tadi bisa dipenuhi tanpa mengorbankan skala atau pengembangan ekosistem. Di tengah optimisme, tetap ada kewaspadaan.
Dengan demikian, pencapaian Q3 2025 GOTO bukan hanya angka sesaat tapi juga momen bahwa perusahaan mulai memetakan jalur menuju “platform teknologi kelas dunia” yang tidak hanya besar secara transaksi tetapi juga sehat secara keuangan.
